Tidak bolehkah aku sedikit terpesona,
pada hitam keriting rambutmu yang selalu kau cukur dua senti di atas kulit kepala
atau pada legam tubuhmu yang menjelaga karena pigmen yang tak merata
Kamu harusnya memang selalu ada,
meskipun hanya untuk memujaku semata.
Setiap aku mengucapkan selamat di pagi hari karena masih bisa bernapas lega,
walaupun dunia sudah mulai berduka
Sumbang nyanyianmu meretas sukma,
kapankah kita akan mulai mencinta?
Ternyata kamu hidup di dunia maya...
Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts
Tuesday, 15 November 2011
Wednesday, 2 November 2011
Puisi Hujan
Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu merindukan panas mentari dan mengumpat kenapa hujan lagi
Namun ketika mentari itu datang, mereka beranjak pergi
Bukan berterimakasih atas sang hari
Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Mengambil gitar untuk memainkan lagu
Sambil mengingat kekasih yang telah berlalu
Mereka menciptakan lagu hujannya
Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu menangis, menemani hujan membasahi bumi
Lalu menjadi sendu, tiba- tiba kelabu
Menantikan seseorang yang dulu ada, dan sekarang tak akan kembali
Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Kembali tak acuh dengan rintiknya
Lalu menulis puisi tentang orang lain yang memandang hujan
Tidak pernah peduli hujan dan terang, kemudian tertidur
Siapakah yang mengharapkan hujan?
Lalu merindukan panas mentari dan mengumpat kenapa hujan lagi
Namun ketika mentari itu datang, mereka beranjak pergi
Bukan berterimakasih atas sang hari
Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Mengambil gitar untuk memainkan lagu
Sambil mengingat kekasih yang telah berlalu
Mereka menciptakan lagu hujannya
Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Lalu menangis, menemani hujan membasahi bumi
Lalu menjadi sendu, tiba- tiba kelabu
Menantikan seseorang yang dulu ada, dan sekarang tak akan kembali
Perhatikan saja, setiap orang yang memandang hujan
Kembali tak acuh dengan rintiknya
Lalu menulis puisi tentang orang lain yang memandang hujan
Tidak pernah peduli hujan dan terang, kemudian tertidur
Siapakah yang mengharapkan hujan?
Wednesday, 24 August 2011
Harapanku, Mak...
Katanya aku dewasa sekarang,
namun kubilang kepada Mak,
"Mak,masukkan lagi aku kedalam perutmu."
Agar aku tak merasakan lagi panasnya udara,
atau matahari yang membara.
Agar aku tak kadung rindu pada angin gunung,
atau keinginan main bersama burung.
Mak, kalau tak bisa kau masukkan lagi aku ke dalam perutmu,
bilangkan saja pada Sang Maulana,
agar aku bisa menjadi bayi lagi.
Menyusu tetekmu yang empuk dan hangat,
dan menangis saat tak ada yang menyumpal mulutku.
Aku bisa berak di celana,
itu bukan bencana.
Aku ingin Mak, tak merasakan kerasnya dunia.
Harus bangun pagi- pagi buta,
lalu mencari kerja.
Istriku minta cerai, Mak,
sudah enam bulan dia tak kunafkahi.
Kembalikan aku Mak,
ke dalam perutmu dan tak usah dilahirkan lagi.
namun kubilang kepada Mak,
"Mak,masukkan lagi aku kedalam perutmu."
Agar aku tak merasakan lagi panasnya udara,
atau matahari yang membara.
Agar aku tak kadung rindu pada angin gunung,
atau keinginan main bersama burung.
Mak, kalau tak bisa kau masukkan lagi aku ke dalam perutmu,
bilangkan saja pada Sang Maulana,
agar aku bisa menjadi bayi lagi.
Menyusu tetekmu yang empuk dan hangat,
dan menangis saat tak ada yang menyumpal mulutku.
Aku bisa berak di celana,
itu bukan bencana.
Aku ingin Mak, tak merasakan kerasnya dunia.
Harus bangun pagi- pagi buta,
lalu mencari kerja.
Istriku minta cerai, Mak,
sudah enam bulan dia tak kunafkahi.
Kembalikan aku Mak,
ke dalam perutmu dan tak usah dilahirkan lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)