Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

Friday, 2 November 2012

Berhala Duniaku


Sudah lima jam aku menanti kamu. Kamu berjanji untuk menjemput aku malam ini kan? Kamu lupa atau kamu melupakan aku ya? Sesungguhnya aku kecewa, kenapa aku terus menerus meratapi kamu yang jauh disana. Sedangkan aku masih mempertanyakan apakah kamu mencintai aku sedikit saja. Seujung kuku. Sudah hampir tiga tahun ini kita terlihat saling mencintai. Kalau saja bapak ibumu lebih menerimaku di rumah kalian, aku akan secepatnya kembali dari Pontianak lalu sebulan sekali akan mengunjungi dan menginap sebentar di kamar adikmu.
Kutinggalkan lamunanku sebentar, lalu kukirimkan pesan dari Blackberryku untukmu. Kulangkahkan kaki ke pub seberang kantorku. Aku meminta kamu untuk menemaniku minum seteguk dua teguk atau berteguk- teguk alkohol malam ini. Lalu, setelah kita tipsy, kau akan menghiburku di kamar. Membicarakan kejadian lucu tadi siang di kantormu, atau hanya menonton tivi sambil tidak peduli satu sama lain, kemudian sibuk mengecek setiap profil facebook teman- teman kita dan membalas twitter dari orang yang tidak kukenal. Walaupun kita hanya bertemu kadang- kadang, tapi rasa sayangku padamu tidak pernah berkurang. Bertambah justru. Apalagi ketika kamu menangis sambil menggenggam ponselmu karena masalah sepele dengan bos atau teman kerjamu, lalu menanyakan kapan kita akan bertemu. Kamu terus mendesak aku mampir ke Jakarta sebulan sekali untuk bertemu. Sekali dua kali kau menangis, aku bisa tahan. Berkali- kali seperti kemarin, aku mau mati rasanya.
Well, aku memang tidak pernah bisa mengerti pikiran kamu. Seringkali kamu terlalu melankolis, menangis tersedu- sedu saat aku meninggalkanmu dua jam untuk bermain billyard dengan teman kantorku. Di saat yang lain, kamu mampu seminggu tak menghubungiku sama sekali. Kamu terlihat tidak peduli. Seperti sekarang ini. Sekarang sudah jam setengah sebelas malam. Orang gila mana yang mau menunggu pacarnya lima jam lebih. Cuma aku. Padahal kamu sering marah- marah kalau aku terlambat dua menit saja. Hei, apakah ini wajar? Mungkin aku terlalu memanjakanmu, membelikan sepatu seharga dua juta saat kamu ngambek, lalu menemanimu pergi ke salon selama tiga jam. Perawatan top to toe. Tapi semua itu terbayar saat kamu tersenyum cantik dengan rambut ikal rapi. Kamu terlihat seperti barbie dengan kulit tanned.
Aku masih menunggu kamu, kuputuskan kalau sampai jam dua belas nanti kamu tidak datang. Aku akan pulang. Dari tadi kuhubungi ponselmu, tapi tak kau angkat- angkat. Apakah aku harus menghubungi ibumu? Tapi setiap dia tau aku menelponmu, dia selalu bilang kamu tidak ada, sedang mandi, sedang makan, sedang tidur, sedang berenang atau belanja. Banyak sekali alasannya. Lagian menghubungi orangtuamu sama saja dengan bunuh diri. Mengiris hati sendiri. Untung saja aku seorang yang optimis. Aku selalu berpikiran bahwa mereka akan menerima hubungan kita nanti.
Ini batang rokokku yang ketujuh. Lama- lama aku bisa menghabiskan satu bungkus untuk menunggumu saja. Begitu mau aku nyalakan, aku melihat kilatan bayanganmu. Hah, itu kamu! Ingin kupeluk rasanya. Kamu datang dengan tersenyum, lalu mencium pipiku. Kau ambil rokok mintku, kau nyalakan, lalu kau hisap asapnya.
"Maaf ya sayang, aku tadi banyak banget kerjaan. Untung kamu orangnya sabar.", katamu sambil tersenyum dan membelai pipiku.
"Lima jam lebih!"
"Sorry, tadi kan aku udah minta maaf..."
Aku hanya mengangkat bahu sambil meneguk alkohol lagi. Kamu hanya tersenyum menatapku. Kalau sudah begini, aku tak mau menatap wajahmu. Aku takut mati. Kamu terlalu cantik.
"Kamu harus bayar lima jam aku. Kemana kita besok? Lusa aku udah harus balik ke Pontianak."
"Hmmm...besok malam aku mau masak buat kamu. Special menu! Gimana?"
"Boleh! Kamu jago ngerayu aku.", kataku sambil menyalakan rokok lagi.
***
Bertemu kamu sebentar saja sudah menjadi candu bagiku. Apa indahnya rindu jika saat merasanya aku menjadi kosong. Kamu adalah berhala bagiku, kusembahyangi dan kupuja. Bukankah jarak menjadi lebih jauh ketika manusia saling jatuh cinta? Kantor kita hanya berjarak dua kilo, tapi dengan perasaan ini, aku berpikir, jarak kita seperti Jakarta- Afrika. Satu malam lagi aku akan berpikir jarak Jakarta- Pontianak akan sejauh Jakarta- Andromeda. Semalam lagi, aku akan kembali ke pekerjaan yang sudah setahun aku tekuni, dan seringkali aku maki. Seringkali aku hanya menutup mata dan berpikir untuk melipat dunia seperti peta, aku dan kamu akan bertemu saat itu.
Kamu akan masak malam ini. Aku yakin seratus persen masakanmu enak, walaupun yakin duaribu persen akan kemanisan. Apalagi saat aku melihat wajahmu. Aku mencintai kamu, terlebih aku mencintai saat menghabiskan waktu denganmu. Satu- satunya yang aku benci adalah waktu. Jam pasir bergerak seribu kali lebih cepat jika kamu di sampingku.
Aku akan memakai kemeja yang waktu itu kau belikan, lalu kusemprotkan parfum maskulin kesukaanmu. Aku berjalan meninggalkan kamar hotelku lalu mencegat taksi. Perasaanku bahagia. Kutinggalkan seratus ribuan untuk Pak Sopir tanpa kembalian. Cepat- cepat aku menuju apartemenmu. Ketika kupencet belnya, satu menit kemudian ratuku datang. Aku disambut oleh bau masakan yang luar biasa.
“Selamat datang di restoran saya. Anda datang di waktu yang tepat. Silahkan memesan menu special hari ini. Ada udang goreng berbalut tepung dengan saus mayonnaise, gurame special dengan saus asam manis. Kangkung cah ekstra pedas dengan telur puyuh.”
“Saya mau semua, please.”, kataku sambil mengecup pipimu.
“Dengan senang hati. Pelanggan adalah raja.”
Lalu kamu sibuk mengatur meja dan mengambilkan nasi dan lauk untukku sambil bersenandung.
“Hari ini aku bakal ngenalin satu orang yang spesial.”, ucapmu sambil tersenyum.
“Oh ya? Siapa?”, tanyaku penasaran. Selama ini kamu tidak pernah mengenalkan seseorang special buatmu.
“Kayaknya sebentar lagi dia datang.”
Tujuh menit berlalu sambil menikmati masakanmu. Ada bel di depan pintu. Kau bergegas untuk menyambut tamu spesialmu. Aku bergegas meninggalkan meja dan menyambut tamu istimewa yang kau janjikan. Kulihat di depan pintu, ada seorang laki- laki tinggi, tampan, dan rapi. Kusodorkan tanganku untuk menyalaminya, tidak sengaja parfumnya tercium, baunya sama dengan parfumku. Sepertinya orang ini benar- benar special. Lalu kau menyebut namanya, dan memperkenalkannya padaku.
“Kenalin, ini Frans, dia itu… pacar aku… jeng jeng jeng…”
Hah? Apa aku tidak salah dengar?
“Frans, ini Jenny, tapi karena dia super duper tomboy begini, aku panggil dia Jay. She is my special best friend ever yang paling sabar sepanjang masa hidup dan mati. Jay, sorry ya, aku mau bikin surprise, jadinya aku ngga cerita- cerita kalau aku lagi deket sama Frans.”
Haha, hanyakah aku yang berpikir bahwa kita saling mencintai. Ternyata kamu terlalu sempurna, terlalu biasa, sama seperti yang lainnya. Aku harus menyiapkan diri untuk tidak menerima telpon ucapan selamat pagi darimu lagi, dan harus bersyukur aku mungkin tidak akan mendengarkan kamu menangis lagi. Kamu sudah menemukan bahu yang lebih kokoh dan kekar.
Selamat malam berhalaku. Ini pertamakalinya aku mengenal kamu dengan sungguh.

-Nia-

Thursday, 2 August 2012

PDKT dan Analogi Mencontek

Berkutat dengan orang- orang yang jatuh cinta itu bikin bahagia, soalnya tiap hari ngeliat orang yang senyum- senyum sendiri sambil ngeliatin gadgetnya. Saya punya beberapa teman yang sedang jatuh cinta. Lumayan sih, bisa denger cerita mereka sehari- hari. Bikin berseri- seri. Seneng aja ngeliat orang blushing karena hal- hal sederhana. Misalnya waktu ngeliat kecengannya rambutnya berantakan. Ato cuman gara- gara disenyumin doank. Bahagia itu sederhana.

Saya dengan pasti berkata bahwa saya adalah salah satu segmen wanita yang agak agresif kalo lagi jatuh cinta.  Nggak seagresif minta nomor sama orang yang belom kenal sih... Cuman, saya jago bikin skenario.

"Ni, gue hari ini bahagia.", kata Yuna.

"Kenapa?"

"Nggak papa sih, cuman tadi di kereta ngeliat cowok kece."

Lalu Yuna bercerita tentang si Mr. Trainman ini. Ramah, suka senyum dan sayangnya belum sempet kenalan. Yaaah... saya tahu. Yuna ini manis dan pemalu, jadi gak mau kenalan sebenarnya, bukan belom sempet kenalan. Berbekal ceritanya bahwa dia dulu sering bareng seorang cowok di kereta, dan ternyata kecewa karena gak pernah kenalan, gara- gara cowoknya terlihat jutek, saya gemes.

"Kali ini lo harus kenalan, Yun...", menurut saya ini plan B Tuhan. Soalnya plan A-nya dulu nggak berhasil, cowoknya terlalu jutek, dan ceweknya terlalu pemalu.

Lalu saya ber-analogi.

"Yun, PDKT  sama orang kayak gini ibaratnya mencontek. Lo lagi nyontek waktu ujian, bobotnya 50% dan lo tau pengawasnya itu senior lo di kampus. Keliatannya galak sih, tapi lo gak kenal dia. Lo duduk paling depan, dan sempet dipelototin soalnya gelisah gara- gara ga tau jawaban sama sekali. Pilihan lo cuman dua:

  1. Lo nggak nyontek sama sekali soalnya lo takut dilaporin sama pengawas. Akibat : lo ga bisa jawab soal sama sekali. Nilai lo akan jadi E.

  2. Lo akan coba nyontek, ngeluarin kertas contekan dari kantong celana lo. Masa bodok dengan pengawas walaupun dipelototin dan disuruh masukin contekannya. Akibat: Kalau dilaporin nilai dapet E, kalau ga dilaporin, berarti lo hoki. Bisa dapet minimal B lah, kalau dapet A alhamdulilah...


Tinggal lo pilih aja Yun, yang mana..."

Kalau gue akan pilih nyontek, toh nggak akan ada ruginya. Semua itu diawali dengan anggukan dan senyuman, lalu basa- basi 'mau pergi kemana' atau 'eh, ketemu lagi', atau cuman sekedar 'hai'. Lama- lama jadi follow twitter, tukeran facebook sampai mungkin bisa tukeran cincin. Who knows?

Saya pilih mencontek :D

Saturday, 18 February 2012

Dear Estrogen

Saat- saat wanita menyalahkan estrogen: ketika setiap malam diam- diam menyalakan microwave sambil memasak mi instan

Saat- saat pria menyalahkan estrogen: setiap saat

 

That's why... We call it estrogen syndrome

Monday, 14 November 2011

23

Hari ini aku bertanya- tanya, ketika Bapak sedang panik karena istrinya akan melahirkan anak pertama. Seperti apakah dia? Ketika ibu merasakan kesakitan bukaan di rahimnya, seperti apa wajahnya? Ketika seorang anak manusia akan memulai mencari dosa, apa yang dipikirkannya?

Sejak pertama aku memandang cermin, aku langsung jatuh cinta. Terpesona akan keindahan diri sendiri. Lalu memuji Sang Pencipta, mengapa Dia bisa membuat makhluk seperti ini. Hormatku ya Tuhan, atas segala sentuhan Mu pada diriku.

Aku kini 23.

Sunday, 23 October 2011

Pandangan Mata Ilham

Sudah limabelas ribu kali aku memejamkan mata, mencoba untuk tertidur. Domba yang aku coba hitung juga sudah habis. Mereka terlalu kelelahan melompat- lompat di pikiranku. Kuistirahatkan saja mereka. Biar kenangan kemarin, kemarin lusa, dan kemarinnya lagi berputar- putar di kepalaku. Aku sendiri tidak tahu kenapa kamu terus bermain di sini, pertama di depan kelasku. Lalu di lapangan basket, lapangan futsal, lama kelamaan kamu bermain di kepalaku. Kamu serakah. Hatikupun kau jadikan tempat bermain.

Pertamakali aku jatuh cinta, ya dengan kamu.  Kamu yang mengantarkan getaran itu setiap kali melewati kelasku. Kamu satu- satunya lelaki yang berani menatap mataku secara langsung, walaupun tanpa tersenyum. Menghantarkan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya dengan orang lain.

Aku selalu menantikan jam istirahat selama limabelas menit itu, karena kamu akan berbetah- betahan di kelasku sambil memainkan lagu Kasih Tak Sampai dengan gitar dan suara serakmu. Lalu aku akan memilih untuk mencuri pandang denganmu dan tidak menuju kantin untuk makan siang. Menahan lapar buat kamu. Terdengar romantis. Padahal sebelumnya aku tidak tahu siapa namamu.

Aku tak sabar untuk menunggu esok hari tiba. Menunggu kamu mendatangi kelasku untuk meminjam buku pelajaran yang ketinggalan kepada Billy. Kemudian mata kita akan bertemu, menghasilkan ikatan kimia dan memunculkan hormon endorphin di kepalaku.

Sekolah tak pernah seindah ini sebelum kamu memandangku. Hari ini aku akan memberanikan diri untuk berkenalan denganmu. Aku akan main ke kelasmu dan berpura- pura menanyakan namamu. Sudah belasan kali kulatih ini di cermin. Walaupun begitu, aku masih gemetar dan sakit perut begitu wajahmu terbayang di mataku.

“Hei”, kataku memberanikan diri

“Hei!”

“Mmm… boleh pinjem buku sejarah? Punyaku ketinggalan di rumah.”, trik nomor satu, kataku dalam hati.

“Oh, boleh. Kebetulan aku bawa. Sebentar ya… Hmmm… ini dia bukunya.”, katanya sambil tersenyum manis.

“Thanks! By the way, aku Sheila.”, kataku sambil mengulurkan tangan.

“Oh, aku Ilham.”, jawabnya.  “Aku sudah tahu kok nama kamu.”

Wow… kurasakan detak jantung yang semakin kencang. Sepertinya ini pertanda yang baik.

“Oh ya? Tau dari mana?”, semoga aku bisa menyembunyikan kebahagiaanku yang berlebih.

“Haha… pasti tahu lah. Kamu kan yang duduk di depan Ninda?”, jawabnya

“Iya…”

Wow, ternyata dia sampai hapal siapa teman di belakangku! Aku ingin melompat- lompat bahagia.

“Eh, nanti kalau udah masuk kelas, tolong sampaikan salam aku ya buat dia. Ehm… sori nih, kita baru kenalan tapi aku udah begini. Kamu tahu gak, dia lagi naksir siapa?”, tanyanya sambil malu- malu.

“Oh…”, aku mencoba menyusun kata.

Jadi selama ini Ninda? Astaga… Aku terlalu bodoh untuk mengira bahwa dia memandangku. Selalu berjaga di kelasku setiap jam istirahat demi melihatku. Ternyata bukan. Arrgh… ingin kumaki diriku.

“Oh…ehm… Ninda ya? Sayangnya dia udah punya pacar.”, jawabku kaku.

“Masa? Aku gak pernah liat dia jalan sama seseorang…”

“iya, pacarnya itu guru lesnya.”, kataku serius.

“I see.”

Ilham, cahayamu lalu redup seketika. Jika kamu lilin, harusnya aku yang menyalakan kamu.

Tinggalkan Ninda, Ilham… Malam ini aku tidak bisa terpejam lagi.

#FFDadakan @nulisbuku

Sunday, 9 October 2011

Jalan Menuju Mimpi

Kebiasaan saya akhir- akhir ini adalah menulis tanpa tau apa yang saya tulis. Berdasarkan peristiwa setiap harinya yang saya lewati, saya coba untuk menulis. Namun terantuk di suatu bagian. Sama seperti ketika saya melangkah, lalu menemukan jalan buntu, saya bukannya berbalik untuk mencari arah yang benar, tapi saya hanya terdiam. Merenungi diri, kenapa saya bisa sampai disini, siapa yang salah, saya yang salah atau ada orang lain yang berperan sehingga saya bisa sampai di tempat ini.

Sekarang adalah fase dimana saya sadar, bahwa merenungi jalan buntu di hadapan saya kurang begitu berarti. Namun, saya menemukan suatu hal baru, daripada saya beputar untuk mencari arah yang benar atau menanyakan arah kepada seseorang, lebih baik saya membongkar jalan buntu. Mendobrak kesadaran yang ada. Saya akan membiarkan kaki terus berjalan dan insting yang menuntun. Ketika ada matahari, biarlah saya berjalan menuju matahari sampai pukul duabelas siang. Lalu beristirahat untuk sekedar mengambil nafas atau minum untuk mengusir haus.

Kaki saya mulai beranjak, untuk membuat kerangka baru dari setiap cuilan kilasan hidup saya bersama orang- orang terdekat dan orang- orang terjauh. Hanya untuk harapan sederhana, yaitu mewujudkan mimpi kecil. Karena hidup adalah perjalanan menuju mimpi...

Gracias

Wednesday, 21 September 2011

Bizarre Love Triangle

Ini adalah kisah tentang istri yang ditukar...

 

Pada suatu ketika, tersebutlah cerita tentang suami istri yang tinggal di suatu kota metropolitan. Sebut saja mereka tinggal di Jekardah.

Sang suami sebenarnya terpaksa menikah dengan istrinya, dia hanya ingin menyenangkan hati ayah ibunya karena sudah 50 tahun ia menjomblo, namun belum ada yang mau dengannya, lagian, bapak ibunya berpesan sebelum meninggal, "Nak, jangan mau jadi jomblo seumur hidup, ibu gak tahan lagi digosipin di dunia. Apalagi di akherat.", kata ibunya.

 

Pada suatu hari, sepasang suami istri tersebut pergi ke warteg a.k.a warung tega(l). Sudah 3 tahun mereka menikah, sang suami tetap tidak bisa jatuh cinta kepada istrinya, sampai suatu saat semuanya berubah...

Ketika sang suami melihat sebuah sosok di warteg itu...

Dia imut, putih, langsing, mulus, mempesona, kepalanya besar, menunjukkan intelejensia tak terhingga. Tertutup dengan topi hijau, dia sangat sempurna.

Tak ayal lagi, sang suami langsung jatuh cinta pada sosok tersebut. Ia pun rela menukar istrinya dengan sosok itu. Ya... sang suami rela menukar istrinya dengan sebatang tauge...

 

Setelah tauge dan sang lelaki bertemu, dunia pun berubah. Sang suami terus menerus memandangi tauge. Ia tidak peduli dengan istrinya lagi, yang sekarang meringkuk di baskom sayur tempat tauge biasa nongkrong sepanjang hari menunggu pelanggan.

 

Pada suatu hari, tetangga si suami itu, pergi ke warteg. Ia terkejut setelah tahu, bahwa ada suami yang tega menukar istrinya dengan sebatang tauge putih. Dengan berat hati, si tetangga itu pun membeli sang istri dengan harga Rp 2000 sebungkus. Lalu ia pergi ke rumah suami istri tersebut. Tujuannya adalah untuk mengantar sang istri kepada pelukan suaminya.

 

Kehidupan sang suami sekarang mulai berubah. Ia sering senyum- senyum di depan tauge. Ia menciumi tauge, walaupun baunya sudah seperti sayuran basi. Ketika itu, tetangganya mengetuk pintu. Sang suami dengan malas membuka pintu, ia merasa kesenangannya terganggu.

 

"Permisi Pak, saya membawakan bungkusan untuk bapak.", kata tetangganya.

"Apa ini? Pakai repot- repot segala", ucapnya basa- basi.

"Ini istri bapak pak...Is....triiii...ba....paaakkk...", kata tetangganya dengan slow motion.

"Oh, kan udah saya tuker pake tauge, Bu."

"Apa?" (zoom in...zoom out)

"Bisa ibu jual lagi, atau ibu jadikan orak arik..."

Lalu sang suami beralih pandang ke bungkusan yang berisi istrinya...

"Kamu saya talak satu"

"Kamu saya talak dua"

"Kamu saya talak tiga"

"Selesai"

 

Sang suami kembali lagi asyik masyuk dengan taugenya.

 

"Tunggu, kenapa bapak tega melakukan ini? Anda membuang istri Anda sendiri???"

, kata tetangganya.

 

 

Hening...

 

"Daripada bapak buang istri bapak, lebih baik saya jadikan isi tahu jeletot saja.

.. Boleh??"

 

 

Sang istri bengong...

 

 

 

-Fin-

Wednesday, 7 September 2011

Lubang Air Mata dan Korelasi Terhadap Ayah

Aku tahu, aku terlahir setelah 31 tahun kau bernafas, setelah hampir 10 bulan kau menunggu. Mungkin terlalu jauh umur kita, kau pikir. Aku memang tak pernah mengerti apa yang kau pikirkan dan jalan pikiranmu. Memang kita tak pernah jadi sahabat, Pak. Sebagaimana aku mencoba. Dari sapaan sederhana, kelitikan, tertawaan, sampai dengan pembahasan ikatan karbon, kimia industri, obat- obatan tradisional, dan filosofi kitab suci. Kadang aku tak mau pulang, hanya dengan memikirkan, semakin lama aku di rumah, semakin kita sering beradu mulut, atau berakhir dengan tangisan diam- diamku ketika aku terlalu kesal dan tak bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku, di otakku.

Memang, aku terlahir tak sempurna. Semua orang seperti itu, Pak. Aku bayi istimewa, terlahir tanpa lubang air mata. Setelah keluar dari rahim ibu, aku hanya berteriak, tanpa menangis. Aku jadi bertanya- tanya, apakah kau bersedih, apakah curiga, panik, atau biasa saja. Tahu- tahu, aku sudah mendapatkan lubang air mata baru. Ketika kini aku menangis, aku tersadar, lubang air mata berperan begitu besar. Seringkali aku menyesali, mengapa kau harus membuatkanku lubang air mata. Karena lubang artifisial itu, air mataku sering terkuras. Habis. Apalagi ketika kau tak pernah mau peduli, bagaimana kerasnya duniaku.

Kau ayah, kau bertitah, kau menunjuk, kau memerintah. Aku anak, aku menurut, aku menunduk. Apakah aku boleh menolak, saat kau memintaku masuk jurusan kedokteran? Itu ambisimu, Pak. Kau ingin menjadi seorang dokter. Aku tidak. Apakah kau mendengarkan aku ketika aku ingin mengatakan bahwa SPMB waktu itu salah tempat? Kau tuduh aku tak siap, tak pandai mengatur diri. Bukan salahku, Pak. Salah mereka, yang tak becus mengatur jadwal. Dua ribu anak lainnya terlantar, termasuk aku. Kau berkata, "Kamu mencoba mengajari aku?". Aku menangis, sedih, karena kau tak pernah mau peduli. Hatimu tak bertelinga, pikiranmu terlalu dangkal. Aku anakmu. Dan kau tidak mendengarkanku. Tak sadarkah, kau waktu itu mulai menebarkan benih benci di diri anakmu.

Aku setidaknya ingin kau mendengar apa yang bisa kau dengar. Aku perempuan, Pak. Aku berpikir menggunakan hati. Bertindak dengan sedikit rasio, dan menggunakan perasaan untuk berbicara. Sedang kau tak pernah mengerti. "Cuma begitu aja nangis!", serumu. Apakah aku harus menjadi seorang anak laki- laki sehingga aku bisa mengerti inginmu. Padahal aku sangka ikatan fusi begitu erat diantara kita. Aku terlalu banyak mewarisi sifatmu. Aku terus melatih diri agar tak sakit hati saat kau berbicara. Tapi kau anggap aku tak mendengarkanmu.

Terlalu banyak asumsi- asumsi berkecamuk di pikiranku. Berkelahi sendiri seperti suporter sepakbola yang melihat kesebelasannya kalah di lapangan hijau. Tolong beritahu aku, Pak. Dengan hati. Apa yang kau maksudkan ketika kau bertindak dan berucap. Ketika aku selesai menuliskan ini, aku akan mendidik diri, untuk mengungkapkan bahwa aku sayang Bapak. Dan aku tak akan berhenti berharap bahwa kau akan berkata, "Anakku, aku mencintaimu."

Monday, 22 August 2011

Pergi???

Aku kembali pada kamar berukuran 3x3 Meter itu. Ruangannya ditemani lemari kayu yang lapuk dimakan rayap. Ketika kutarik lacinya, debu putih memenuhihidungku, membuatku terbatuk, dan mengumpat "sialan!". Kujejalkan kembai laci yang berlubang itu. Dimensinya tak lagi serasi dengan inangnya, kurasa laci itu merasa tak diharapkan lagi. Serbuk kayu tadi menaburi tumpukan bajuku, membuatku berpikir untuk mencucinya lagi, namun kuabaikan. Kualihkan pandangan ke setumpuk pakaian kotor dalam keranjang, kunikmati bentuknya lalu terdiam. Kuambil satu, lalu kukembangkan cuping hidung. Kurenggut oksigen dalam- dalam melalui sela-  sela seratnya. Apak dan kecut, "Acem ih...", katamu sambil tersenyum. Kurebahkan tubuh sambil kututupi wajahku dengan bantal.

***


Kamu seperti alkohol, nikmat, sedikit pahit saat diteguk, menghangatkan tubuh, dan memabukkan. Membuat aku tertawa saat tidak ada apa- apa dan membuatku menangis saat kau tiada. Aku baru tahu kau luar biasa, saat rokok dan vodka tidak bisa menggantikan kehadiranmu. Kau yang membuatku berhenti, kau yang membuatku memulai lagi. Menyedihkan, aku yang biasanya tahu apa yang akan terjadi pada diriku dalam setengah jam sebelumnya, sekarang, aku terus merenungi masa setengah tahun lalu.  Terlalu malu untuk memintamu kembali, aku sekarat hampir mati. Sekarang bahkan aku tak tahu kau kemana lagi. Mungkin kau ke pantai, atau ke gunung, atau bisa jadi kau di perempatan jalan, meminta- minta, mengamen, menjajakan permen, tahu, dan aqua.

Tiga tahun kau buat aku menderita karena kebersamaan kita. Kalau kau akhirnya pergi juga, kenapa kita ditakdirkan bersua. Ini salah siapa?

Friday, 19 August 2011

Bullying Message

Hari ini saya mendapat sms dari orang yang sama sekali tidak saya kenal. Dia menyamar sebagai pacar saya. Bahkan lebih posesif dari aslinya. Jika saya tidak balas smsnya dalam dua menit, dia akan mengirimkan pesan: "Kenapa kamu ga balas sms aku?". Sedangkan saya sudah tidak tertarik menghadapi orang- orang seperti ini. Aaah... lain kali saya berjanji pada diri sendiri, tidak akan usil menanggapi sms seperti ini lagi. Ujung- ujungnya?? Dia minta tidur bareng. Tepatnya, dia meniduri saya. Tidur bersama. Oh, don't even thing that I fulfill his wish.

Hello, I've got sex message from someone I don't know either.
Thank you for the lesson.

Friday, 5 August 2011

Mimpi

Tadi malam aku memintamu menginap di apartemenku, hanya sekedar untuk melepas rindu. Kau memang tak tersentuh, bahkan oleh tanganmu sendiri. Aku cukup bahagia melihat kau tertidur pulas di karpet bulu sambil berselimutkan sleeping bag yang biasa kubawa ke gunung. Di udara Jakarta yang sepanas ini, masih saja kau tidak bisa tidur tanpa selimut, walaupun nantinya saat bangun kau akan menemukan dirimu dalam keadaan basah seperti keluar dari kolam renang.

Pukul 3 pagi, waktu yang katanya begitu sakral, aku terbangun oleh mimpi yang menyebalkan. Di mimpiku, tidurku ditemani oleh seseorang laki- laki tak kukenal. Ketika bangun, dia mencium bibirku, lalu kucium bibirnya. Lalu dia tertawa, dia merasa aku miliknya. Harga diriku mati terbawa angin. Cih. Lalu aku berlari mencari kamu, namun kamu tak ada. Kamu hilang. Tawanya terus menggema di telingaku. Aku terbangun.

Saat mataku terbuka, kumelihat langit- langit kamar, lalu samar- samar kurasakan tanganmu memelukku dari belakang. Ternyata kau tak lagi berselimutkan karpet bulu, kau rebut selimutku.

Senyumku mengembang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan balon. Ah, semoga tadi tak hanya mimpi. :)

Saturday, 4 September 2010

Merah Ungu Darahku

Aku suka merah. Merah itu Me-Rah. Merah itu mempunyai ruh. Kau tahu, merah darahku tak seperti darahmu, darahku merah keunguan. Kata ayah, bercampur dengan darah biru bangsawannya, dan darah merah cerah pribumi ibu. Darahku darah ungu. Darah yang merahnya tidak merah, dan birunya telah membaur. Kata ibu darahku dibutuhkannya untuk menyembuhkan hatinya, ketika ia ditampar ayah karena menggosongkan tempe bacam, dan ketika sayur asamnya terlalu asin. Setiap sekali ayah menamparnya, ibu menggores kulitku supaya tubuhku mengeluarkan darah ungu. Ibu menempelkan darahku ke pipinya yang merah, dan kadang membiru. Lukanya menghitam, namun sakitnya menghilang. Kadangkala aku menawarkan, untuk mengusapkan darahku ke matanya, yang selalu mengeluarkan air mata sehabis dipukul ayah. Namun ibu menggeleng, katanya “Air mata tidak berasal dari mata, nak, namun dari hati.”. Kemudian aku menawarkan darahku agar diusapkan pada hatinya. Lagi- lagi ia menggeleng. “Belum saatmu.”. Aku hanya butuh menunggu waktu hingga darahku bisa menghilangkan air mata ibu.



 

 

 

 

 
 

I am Nia Template by Ipietoon Cute Blog Design